prabowo-khofifah

 

Prabowo-Khofifah

Membaca tulisan Pak Prayitno Ramelan berjudul Prabowo Pesaing Ketat SBY di Kompasiana ini, teringat perbincangan saya dengan politisi yang mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung (AT) tiga pekan lalu di kediamannya. Saat itu saya bertanya langsung kepada AT, siapa kira-kira calon presiden yang mampu menandingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 8 Juli 2009 nanti. Tanpa ragu AT menjawab, “Prabowo Subianto (PS)”. Tentu saja AT tidak menafikan kekuatan capres lainnya semisal Megawati Soekarnoputri (MS). Hanya saja dalam pandangannya, PS bisa menjadi kuda hitam mengingat MS sebelumnya sudah pernah bertarung head to head dengan SBY di putaran kedua Pilpres 2004 yang hasilnya sudah kita ketahui bersama.

Sayang, Gerindra membatalkan Rakernas yang sedianya berlangsung hari ini. Padahal dalam Rakernas yang merupakan suara partai, kemungkinan bisa dideklarasikan dengan siapa Gerindra berkoalsi. Terutama, apakah Gerindra mengusung PS sebaga capres atau “sekadar” cawapres saja. Kalau capres, siapa yang bakal menjadi cawapres bagi PS? Kalau “mengalah” sebagai cawapres, siapa yang bakal jadi capresnya? Menarik, bukan?

Dengan mundurnya Rakernas Gerindra, kita harus menunggu lebih sabar detik-detik menentukan dalam konstelasi politik mutakhir Indonesia. Termasuk juga menunggu detik-detik SBY dan MS mengumumkan cawapresnya masing-masing.

Kembali ke Prabowo, mantan Pangkostrad bernama lengkap Letjen (purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang lahir di Jakarta 17 Oktober 1951 ini memang agak kesulitan mencari siapa pendampingnya (cawapres) kalau ia mendeklarasikan diri sebagai capres. Disebut-sebut politisi PKB Khofifah Indar Parawansa (KIP) sosok yang pantas mendampinginya. KIP pernah “nyagub” (nyalon gubernur) di Jatim, meski kalah. Toh orang beranggapan, KIP masih pantas disandingkan dengan PS dengan alasan pemilihan gubernur Jatim disinyalir penuh kecurangan.

PS juga sempat digadang-gadang untuk “dikawinkan” dengan Puan Maharani (PM) dari PDI Perjuangan. PM adalah anak biologis MS yang berarti cucu Soekarno. Namun “perkawinan” itu hanya sekadar wacana yang diembuskan media massa. Wacana itu kalah keras dengan wacana “perkawinan” PS dengan MS. Akan tetapi, ini “perkawinan” yang teramat sulit karena kedua-duanya berhasrat hanya menjadi “kepala keluarga”.

Kembali ke Prabowo-Khofifah, saya dan mungkin juga Anda bertanya-tanya: bagaimana hitung-hitungan politisnya ketika pasangan ini “dikawinkan” menjadi satu paket untuk Pilpres 2009? Okelah PS pernah mengklaim didukung partai-partai kecil yang kalau dijumlahkan bisa mencapai 20 persen suara. KIP adalah kader dan loyalis Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak partai ini berdiri. Ia pernah menjadi anggota parlemen sebelum Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan. Menggandeng KIP, berarti akan mendulang suara di basis “gemuk” PKB, Jawa Timur, atau setidak-tidaknya memecah suara rakyat Jawa Timur.

Mungkin karena PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar lebih prefer merapat ke SBY, agak susah mendorong KIP sebagai cawapres. PKB Muhaimin tentu akan mengerahkan konstituennya untuk memilih pasangan SBY-?. Faktor “Fatwa Gus Dur” yang berseberangan dengan PKB Muhaimin untuk mendorong pasangan Prabowo-Khofifah, bisa jadi akan menggiring suara PKB memilih KIP, siapapun capresnya!

Kombinasi Prabowo-Khofifah memang menarik. Bisa terwujud, bisa juga tidak, karena semua baru wacana. Tetapi setidak-tidaknya pegang saja ucapan AT, bahwa PS-lah yang mampu mengimbangi kekuatan SBY dalam Pilpres 2009 nanti.

 

Sejumlah Parpol Gulirkan Wacana Prabowo-Khofifah

KOMPAS.com — Sejumlah partai politik yang tergabung dalam Forum Antar-Parpol menggulirkan wacana duet pasangan Prabowo Subiyanto-Khofifah Indar Parawansa sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.
   
Sekjen Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Idham Cholied di Jakarta, Selasa (5/5), menyatakan, duet Prabowo-Khofifah akan menjadi lawan tangguh bagi incumbent

"Mereka pasangan segar yang menjanjikan harapan baru. Jangan sampai Pemilu Presiden (Pilpres) 8 Juli hanya diisi tokoh yang itu-itu saja," kata Idham.

Terkait kendaraan politik, Idham optimistis bukan persoalan sulit. Partai Gerindra bisa bergabung dengan sejumlah partai baru dan lama. "Saya kira PAN dan PPP akan tertarik dengan duet ini," katanya.

Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR) Bursah Zarnubi sepakat Khofifah layak tampil dalam pilpres mendatang. "Figur Bu Khofifah bagus," katanya seraya menyatakan kemampuan Ketua Umum Muslimat NU tak kalah dengan capres/cawapres lainnya.

Menurut Bursah, akseptabilitas (penerimaan masyarakat) dan elektabilitas atau tingkat keterpilihan yang tinggi.  Khofifah juga sudah teruji dalam pemilihan gubernur Jawa Timur beberapa waktu lalu, meski ia gagal meraih kemenangan karena pemilihan diwarnai kecurangan.

"Sebenarnya bukan kalah. Bu Khofifah itu menang. PBR waktu itu kan pendukung Bu Khofifah. Semoga gagal di Jatim, nanti jadi wakil presiden," katanya.

Namun, lanjut Bursah, untuk menentukan dukungan, pihaknya akan memantau perkembangan politik dalam waktu beberapa hari ke depan. "Kita lihat dulu perkembangan dua atau tiga hari ini. Kita belum menentukan dukungan," katanya.

Khofifah, ketika dikonfirmasi, mengaku telah mendengar wacana pencalonannya tersebut. Namun, alumni Universitas Airlangga itu masih enggan berkomentar banyak soal hal itu. Menurut dia, masih terlalu dini untuk menyatakan maju atau tidak dalam bursa capres/cawapres. Sebab, katanya, sistem pemilu masih butuh pembenahan menyeluruh.

"Sistemnya harus dibenahi dulu. Sistem yang ada saat ini masih buruk," katanya.

Menurut dia, persoalan berat masih menghantui pelaksanaan pilpres nanti, mulai dari daftar pemilih tetap (DPT), kinerja KPU dan Bawaslu, hingga netralitas penegak hukum dan birokrasi yang masih dipertanyakan. "Perlu juga keterbukaan Mahkamah Konstitusi dalam menangani kasus-kasus pemilu sehingga demokrasi kita bagus secara substantif dan kualitatif," katanya.

Khofifah juga tak mau beranda-andai bakal dipinang Prabowo. Ia justru mengingatkan bahwa kasus pemilihan Gubernur Jatim menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan demokrasi di Indonesia. "Kasus itu kini seolah menghilang entah ke mana," kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan tersebut

 

Khofifah Cawapres Prabowo

Khofifah tampaknya semakin diakui kegigihannya di dalam dunia politik. Kabar-kabarnya, cagub Jatim tersebut telah dilirik menjadi cawapres Prabowo Subianto. Ehemm...

Kabarnya, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini telah dilamar oleh E capres. Yakni Capres Gerindra Prabowo Subianto dan Capres PIS Sutiyoso.

Menurut salah seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, Khofifah masuk dalam nama 17 nama cawapres Prabowo. Dibanding Sutiyoso, Prabowo lebih getol menghubungi wanita kader NU tersebut.

Sumber tersebut juga membeberkan, pedekate Prabowo ke Khofifah telah dilakukan. sejak Pilgub putaran ulang di Madura, 21 Januari 2009.

Ketika ditanyakan langsung, Khofifah hanya memberi senyum misterius dan tak banyak mengumbar kata. "Sudah..., sudah. Wis sore iki, rek," ujarnya sambil mengelak. [beritajatim.com/ana]